Musafa Ahmad
Musafa Ahmad
Aku memang
sudah terkesan sejak pertama kali bertemu dengan beliau dan ingin menulis
tentang kepribadian beliau yang membuatku terkesan. Pertama kali beliau memperkenalkan diri
denganku seperti orang desa yang gak pernah mengurus dirinya, pakaiannya kusut,
lusuh dan “mbulak”, mungkin karena terlalu sering dicuci. Tapi saat ini aku
sangat menghormati dan kagum pada beliau.
Penampilannya
tidak begitu meyakinkan. Wajahnya biasa saja, sederhana, dan apa adanya. Tidak
nampak kesombongan sedikitpun dalam raut wajahnya. Mungkin karena itulah
mengapa setiap orang tidak merasa canggung ketika berbicara dengan beliau. Beliau
begitu supel, mudah sekali bergaul dengan siapapun, tak peduli apakah kawan
angkatan ataupun junior jauh dibawahnya, beliau pergauli dengan akrab dan penuh
antusias. Dengan semangat dan bangga beliau menceritakan jalan hidupnya yang
penuh dengan liku perjuangan mencari
jati dirinya. Denagn cara bergaulnya yang sederhana dan apa adanya membuatnya
dapat diterima siapa saja dan dimana saja. Beliau sering sekali touring, dari
blitar, Malang, Surabaya, Madiun Jogja, Solo dan daerah-daerah lainnya.
Dimanapun beliau pergi hampir disana pasti punya teman akrab yang siap
menerimanya dengan senang hati. Memang sangat berlainan korelasinya antara
penampilan dan kapasitasnya yang luar biasa. Mungkin memang sudah menjadi
fitrohnya bahwa semakin tinggi kapasitas seseorang maka semakin sederhana
tampak luarnya, seperti Ustad Salim A.Fillah, Ustad Faudzil Adzim, dan Ustadz
Solikhin Abu Izzudin. Mereka sangat rendah hati.
Beliau
berasal dari keluargapas-pasan, ayahnya seorrang petani dan ibunya seorang
pedagang kecil-kecilan. Pengetahuannya tentang agama tentu sangat dangkal.
Namun keluarga tersebut sangat menjaga budaya disiplin dan mandiri yang mereka
agungkan, terutama ibunya. Meski pengetahuannya tentang agama masih sangat
dangkal tetapi beliau sangat menghargai waktu, harus melakukan pekerjaan tepat
sesuai dengan waktunya termasuk waktu sholat. Beliau selalu menekankan untuk
belajar hidup mandiri kepada seluruh anak-anaknya sejak usia dini. Mereka di
dorong untuk bisa menghasilkan uang sendiri dengan berwirausaha. Meskipun
teorinya sangat sedikit tetapi contoh yang beliau terapkan sangat nyata, karena
beliau sendiri juga selalu berwirausaha. Ingin selalu menjadikan apa yang
beliau miliki menjadi sesuatu yang produktif. Terbukti kesuksesannya, yaitu
semua anaknya memiliki usaha yang mereka kembangkan masing-masing. Meski
pendidikannya tidak terlalu namun mereka semua mempunyai pohon uang dan arah
hidup yang jelas. Namun mas Mustofa lebih beruntung karena beliau masih punya
semangat belajar tinggi sehingga melanjutkan pendidikan di perguruan
tinggi. Hebatnya beliau membiayai
keperluan pendidikannya sendiri, bahkan kadang-kadang masih membantu kebutuhan
sekolah. Hal itu juga dilakukan dengan tanpa meninggalkan kesibukan dunia
dakwah sampai saat ini.
Diantara
usaha-usaha yang masih beliau tekuni adalah menjadi kontraktor, pembuat kripik,
penebas buah-buahan, pengepul telur ayam masih banyak lagi usahanya.
Berasal dari keluarga menengah kebawah, tetapi sangt menjaga
kedisiplinan. Selain itu juga sangat menjunjung kewirausaan.
Sebelum kuliah, beliau hidup dalah kejagiliahan, mabok,
merokok, DLL.
Sangat ringan untuk berbagi cerita dengan siapapun terkait
pengalaman hidup dan dakwahnya. Sangat asyik bila mendengarkan cerita dari
beliau. Menurutku pencariaan jati dirinya hampir mirip dengan ustad faudzil
Adhim.. Mereka sama-sama memiliki life experience yang sangat berliku dan penuh
tantangan.
Militansinya yang paling tinggi diantara yang lain.
Beliau yang mendirikan komisariat di blitar dan tulungagung
sendiri dengan dibantu kader-kader dari malang.
Beliau mengajak teman-teman gangnya di SMP dan SMA dulu untuk
ngaji.Dengan sabar sedikit demi sedikit, dengan suasana keliaran yang sangat
kental. Beliau menamakan kegiatan ngaji mereka “TENG TENG CRIT” artinya
tenguk-tenguk crito. Dalam bahasa Nasional adalah “nongkrong-nongkrong sambil
bercerita”.
Beliau pernah patah hati. Namun beliau bisa bangkit kembali
menemukan jalan yang lebih hakiki.
Komentar
Posting Komentar